Fakta Mendoan Khas Banyumas

Fakta Mendoan Khas Banyumas

Mendoan merupakan makanan khas Kabupaten Banyumas yang terbuat dari tempe. Makanan ini biasa dijadikan camilan sambil minum kopi atau teman makan dengan nasi.

Walaupun mirip dengan gorengan tempe kebanyakan, mendoan punya keunikannya tersendiri. Mendoan berasal dari bahasa Jawa "mendo" yang berarti setengah matang. Tempe digoreng setengah matang sehingga teksturnya masih terasa lembut.

Di daerah Purwokerto, banyak terkenal dengan sentra keripik tempe. Ahmad Tohari, penulis buku sekaligus budayawan dari Banyumas mengatakan bahwa mendoan ditemukan saat proses membuat keripik tempe.

Dalam proses menggoreng keripik, tempe digoreng setengah matang. Baru setelah dingin, tempe digoreng lagi. Tohari yang pernah tinggal di dekat sentra keripik tempe di Purwokerto mengaku kini camilan itu kalah pamor dari mendoan.

"Ternyata ketika belum matang itu ada yang nyicipin, kok enak? Ternyata tempe goreng yang tidak sampai matang itu enak. Jadinya populer," ujar Tohari.

Jenis tempenya pun khusus. Tempe yang digunakan tidak padat seperti tempe biasa. Tempe dibuat lembaran tipis dan lebar serta dibungkus dengan daun pisang. Tempe ini yang biasa digunakan untuk membuat keripik tempe dan mendoan.

Adonan tepungnya pun bukan menggunakan tepung terigu, melainkan tepung beras. Warna kulit mendoan khas Banyumas berwarna putih tanpa campuran pewarna.

"Bisa menjadi lauk makan nasi, bisa juga digado. Kalau digado sambil minum kopi itu udah pasangannya," tambahnya.

Mendoan khas Banyumas biasa dimakan dengan cabai rawit mentah. Seiring berjalannya waktu, mendoan pun divariasikan dengan saus kecap dengan irisan cabai dan bawang merah.

Mendoan pun kini banyak dijual di berbagai tempat. Sayangnya, ada saja orang yang menjual mendoan yang menggunakan tempe biasa serta digoreng renyah.

Bila Anda ingin mencicipi mendoan khas Banyumas, mampirlah ke Kota Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegera.

0 komentar:

Posting Komentar